"Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah seorang penulis" - Imam Al Ghazali

  • Aksi Massa.

    Bukan seberapa besar jumlahnya, bukan pula seberapa lantang suaranya. Aksi tak melulu langkah kaki. Mari Kaji, Pahami dan kritisi.

  • Bangkit!

    Stop praktik korupsi, mari berbenah dan buat sebuah langkah pasti. .

  • The "GOAT" (Greatest Of All Time)

    Kareem Abdul Jabbar is one of the basketball players who still led most scoring points on NBA history.

  • "Muda, Idealis, Puitis, penuh Karya"

    Soe Hok Gie - "Catatan Seorang Demonstran"

  • About Choices

    "Jujur itu hebat". Maka pilih jalan yang tepat meski aral rintangan tengah menghadang di depan jalan.

Rabu, 12 April 2017

Pamflet Masa Darurat—"Sajak Sebatang Lisong"


Sajak Sebatang Lisong

Menghisap sebatang lisong,
melihat Indonesia raya
mendengar 130 Juta rakyat
dan di langit..
dua-tiga Cukong mengangkang
berak diatas kepala mereka

Matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papan tulis-papan tulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang..
tanpa pilihan
tanpa pohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya


Menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan

Dan di langit
para teknokrat berkata :


"Bangsa kita adalah bangsa yang malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di upgrade,
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor"


Gunung-gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes-protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam

Aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara, ketidakadilan terjadi disampingnya

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gebalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samudra


Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing
diktat-diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan

kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa-desa
menghayati sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata


------
Sajakku,
pamflet masa darurat
apalah artinya renda-renda kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apalah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan.

Kepadamu,
aku bertanya.


WS RENDRA
(Bandung - 19 Agustus 1978)



Share:

Senin, 06 Februari 2017

Hilang dan Kembali

==============

Sempat aku berada,
di puncak-puncak masa.
pertama puncak gilang-gemilangan.
dimana rasa
dan pikiranku,
tercurah semua
..
lewat narasi karya nyata.

Pernah pula aku,
ada di puncak lainnya.
puncak "iman" namanya.
dimana aku mengenal
siapa diriku,
mengapa aku?
apa gunaku?
dan
apa harusku,
...
seutuhnya.

Tak jarang pula diriku,
masuk dalam kubangan gila,
lumpur yang pekat dosa.
hitam legam,
teramat hina.
bohong,
dusta durjana.

Sekali lagi aku,
menyingkap topeng itu jua.
kepalsuan wajah,
kebenaran hati,
..
kebimbangan kata.

Tapi aku,
tak mau kamu
atau dia, dan semua-mua.
melihat lusuh diriku.
Tidaklah berlama-lama.

Biarlah Ia,
biar nanti,
biar kan aku dibimbing,
dituntun dengan binar cahya-Nya,
menyalut diri yang buta,
mata
hati.

Kaca,
tak pernah kala nya mendua.
hanya menyindir si purwa-rupa.
onar wajah, onar semua.
Satu-satu, dua terasa.

Kini saatnya diri,
mengembara jauh.
belum,
kembara diri.
menentu arah,
menguak hati.

dan Aku,
biarkanku..
dituntunku..

Oleh-Nya,
Ia semata
--Pertolongan dari-Nya.

Maha Kuasa.


Senja di sore itu..

Share:

Wahai Pemuda!

Sebuah nasihat dari Imam Hasan Al-banna bagi para pemuda.

Mari sejenak kita lepaskan "cap hitam" atas afiliasi politik dan semacamnya. Sungguh, kata-kata darinya begitu tinggi untuk direndahkan, pun terlantun suci bila dihinakan (memuat Qur'an).

Seorang imam, penuntun, penasihat, penggerak, dan pendakwah yang teramat besar pengaruhnya bagi gerakan islam modern di dunia. Kepiawaiannya dalam berdakwah dan jalan juangnya yang cukup menantang, bisa membangkitkan ghirah muslimin dan membawa dakwah ke dalam periodisasi tersendiri. Terbukti, itulah yang mampu membuat negeri ini sempat merasakan gegap-gempitanya di kala itu.

Berbagai anjuran dan ajarannya sesuai prinsip keislaman, tetap tumbuh dan hidup, bahkan hingga usai kepergiannya. Wallahu'alam.


"Bersedialah wahai Pemuda!, dan mulailah beramal hari ini. Karena mungkin esok kamu tidak lagi bisa mengerjakannya".
*). Sumber : Tertera (Malay sub).





========================



*PM Indonesia, Sutan Sjahrir memberi ucapan terimakasih pada IM dan Al-banna
dalam lawatannya ke Mesir.




#Pemuda #Sejarah #Muslimin #Kanandulu
Share:

Selasa, 17 Januari 2017

Menakar Syak Wasangka

Hidup di tengah masyarakat yang heterogen terlebih sebuah kota besar, memiliki banyak cerita dan tantangan tersendiri bagi tiap individu. Ragam cerita, beragam pula masalah dan solusi penyelesaiannya.

Berbicara tentang demografi dan kaitannya dengan etnisitas, fakta terdapat lebih dari 1.340 suku bangsa di Indonesia menandakan bahwa ada begitu banyak keyakinan dan adat istiadat masyarakat di bumi pertiwi ini. Hal ini kemudian dianggap sebagai sebuah "kekayaan" bagi Indonesia yang mungkin tidak ditemui (atau hanya sedikit) di negara-negara belahan dunia lainnya.

Bila saya tarik waktu mundur dua dekade kebelakang, yakni kurun waktu 1990-an. Maka, ada banyak peristiwa-peristiwa atau konfik yang mewarnai perjalanan sejarah di Indonesia pada era pra-millenial. Konflik ini bermula baik dari daerah kota maupun desa, dan ihwal permasalahannya sama, konflik horizontal. Dalam cara pandang sosiologis, konflik ini biasa dikaitkan dengan masalah primordial. Begitulah pernyataan diatas kertas latarbelakang munculnya masalah sosial bangsa yang akut ini. PBB mencatat sebanyak 75% dari konflik besar yang terjadi di dunia saat ini berakar pada dimensi kultural (etnis dan kebudayaan).

Saya bukan saksi hidup yang hafal seluk-beluk perjalanan sebuah bangsa. Namun, catatan sejarah telah mendeskripsikan dengan runut ada banyak sekali terjadi konflik yang bermain di ranah hilir (sila- dicek). Hal ini membuka mata dan pikiran kita bersama bahwa memang ada yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini, bahkan dalam scope yang terbilang kecil!. Sebutlah contoh itu konflik antar suku, konflik antar-ummat beragama, maupun konflik antar kelas (golongan), mungkin juga antar kampung?. Ah, apapun itu, semua seakan sama-sama tidak ada habisnya.

--Lalu, apa yang sebetulnya menjadi permasalahan ini?
Penyebabnya ialah rasa "Syak wasangka". 
syak n: rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu). 
wasangka/wa·sang·ka/ n: kebimbangan hati; rasa khawatir; kecurigaan;
Dari arti kata, boleh jadi disimpulkan bahwa syak wasangka adalah ketidakpercayaan seseorang atas diri dan orang lain, serta menaruh rasa kecurigaan (ketidaksukaan).
Ini bisa dikaitkan dengan istilah rasa berburuk sangka, karena keduanya memang hal yang tidak dipisahkan secara etimologi: sangka.

Pict: "what causes prejudice?"
(www.reference.com/world-view/causes-prejudice-ff38fd3c76a674b)


Mengapa syak wasangka?
Misalnya saja, konflik antar etnis dan antar golongan yang sering terjadi, kalau didalami lagi biasanya bermula dari permasalahan sederhana nan kecil, misalnya perorangan (individu). Lalu yang menjadi 'minyak' dalam api konflik itu adalah rasa syak wasangka dan soliditas in-group serta labelling out-group pada golongan tertentu. Akhirnya, satu orang di kelompok itu menaruh kecurigaan terhadap orang di kelompok lain, menyebarluas hingga menjadi menjadi konflik yang lebih besar.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki penilaian buruk dan menaruh rasa kecurigaan (syak wasangka) terhadap orang lain, antara lain sebagai berikut;

1. Adanya kategorisasi sosial, (Aku, kamu, kita & mereka)
Hal pertama penyebab  prejudice  ini adalah  terjadinya  kategorisasi; yakni masyarakat cenderung mengelompokkan orang berdasarkan karakteristik tertentu, seperti gender, kebangsaan, etnis, dan sebagainya. Itu pula yang melahirkan konflik sosial berkepanjangan, bahkan dimulai dari pembedaan pengelompokan manusianya!.

*Ilustrasi: "In groups-out groups" :D
(https://theunrecordedman.wordpress.com/2015/07/04/in-groups-out-groups/)


2. In-Group Bias
In-Group Bias adalah perasaan positif dan perlakuan istimewa seseorang kepada orang lain yang dianggap bagian dari in-group, serta perasaan negatif dan perlakuan yang tidak adil terhadap orang yang dianggap sebagai bagian out-group. Henri Tajfel (1982), menggarisbawahi motif utama dari solidaritas dalam kelompok, yaitu self-esteem: Individu berusaha meningkatkan self-esteem (harga diri) dengan cara mengidentifikasi dirinya ke dalam kelompok sosial tertentu.

3. Kegagalan berpikir logis
Belakangan ini, sering dijumpai berita Hoax dan orang-orang yang reaktif terhadap sebuah permasalahan, hal ini juga berkaitan dengan lemahnya kemampuan bernalar seseorang. Atau sopannya, ia bernalar namun kurang mau membuka diri dengan hal yang logis karena dianggap bertentangan dengan apa yang ia yakini. Kegagalan berpikir logis (the failure of logic/fallacy), menjelaskan bahwa ada suatu keadaan di mana emosi seseorang mengalahkan logikanya (untuk menerima argumen dan hal-hal yang logis).

Wait, wut?.. :
(http://www.quickmeme.com/meme/356f48)


4. Kuatnya Stereotip
Pada dasarnya stereotype merefleksikan keyakinan budaya mengenai hal tertentu. Tidak selalu negatif, tapi notabene orang menilai sebagai pandangan yang miring untuk pembenaran terhadap evaluasi orang lain. Individu dapat menginternalisasi stereotype tersebut dan menggunakannya sebagai bagian dari skema yang dimilikinya. Jika individu tidak percaya (stereotip), ia dengan mudah akan mengakui bahwa itu sebagai kepercayaan yang didukung oleh orang-orang lain.

Selain beberapa faktor diatas, adapula faktor mendasar yang barangkali sudah jadi kebiasaan sebagian besar kita. Perasaan jadi "benar" sendiri.
Kadang banyak dari kita berdalih, "benar itu yang penting gue gak ganggu lo atau dia"
Apa iya..?

Memang, sebuah kebenaran punya banyak variabel dan kriteria tersendiri. Bisa jadi, antara satu orang dengan orang lainya punya penilaian sendiri tentang apa yang dianggapnya "benar". Begitu pula dengan kesalahan. Tetapi, perlu digarisbawahi bahwa, yang namanya benar tidak hanya sebatas "gue gak ganggu", coba ditambahin lagi dengan "gue gak ganggu, dan gue (juga) sejalan dengan nilai yang ada di sini". Jika halnya seperti diatas, barulah terwujud suatu kebenaran yang relevansinya nyata, atau katakanlah diakui sebagai sebuah nilai. Dengan demikian, perasaan "syak wasangka" mungkin saja tidak hadir. Mengapa? karena orang itu sendiri yang memang tidak menghadirkan prasangka ini.

Pict: "betrayal"
(http://9gag.com/gag/aYN8gPN)


--Kembali membahas musabab konflik. Bilamana rasa syak wasangka tidak ditundukkan dengan seperangkat nilai yang diamini bersama, justru hal ini yang bukan tidak mungkin akan terus menciptakan kegaduhan. Ambil-lah contoh akhir-akhir ini, banyak orang yang perangainya biasa saja di dunia nyata, namun seakan tahu segalanya di dunia maya (padahal nyata juga). Membagi postingan ini-itu di media sosial yang mereka punya. Tapi, belum tentu ia paham dengan isinya, apalagi validitas informasi tersebut. Maka, ada baiknya demi meredam rasa sangka-sangkaan ini, di crosscheck kembali segala informasi yang kita dapat. Saya yakin, pun bila terjadi konflik, (setidaknya) hanya menimbulkan korban-korban hoax dan korban bully saja, hhe.. Yang pasti, jangan sampai menimbulkan korban jiwa!.

Oleh karena itu, sebagai akhir dari tulisan ini, yuk mari kita jadikan setiap diri kita sebagai orang yang penuh prasangka positif kepada sesama. Saling mengingatkan dengan teman, sahabat, orang-orang dekat kita, begitu pula dengan orang lain yang kita jumpai. Kuatkan ikatan kebersamaan. Karena membenci dan menaruh curiga pada seseorang biasanya sesaat, maka lebih baik mawas diri dan bijak untuk sepenuhnya menuai manfaat. InsyaAllah


Pict by: African Proverb
(http://weheartit.com/entry/164186076)


Demikian tulisan ringkas saya,
Apabila ada informasi yang kurang berkenan dari tulisan diatas, harap maklum adanya.
Terimakasih :)

"Berhati-hatilah kamu dengan berprasangka karena sesungguhnya berprasangka itu adalah sebohong-bohong ucapan" -HR. Bukhari dan Muslim





====================
[1]. Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Jakarta: LPFE Universitas Indonesia, 2004) h.151
[2]. Handout Psi Sosial II: Prasangka/ MM. Nilam Widyarini
[3]. KBBI: Syak, wasangka
[4]. Data Konflik Sosial, diakses dari: https://m.tempo.co/read/news/2015/05/21/078668047/konflik-yang-dipicu-keberagaman-budaya-indonesia
[5]. Prasangka dalam islam, diakses dari: http://www.islamituindah.my/jauhi-prasangka-sesama-islam
Share:

Selasa, 27 Desember 2016

Dakwah: Sebuah Perjalanan

Berbicara tetang Dakwah, akan sangat banyak definisi yang dipaparkan para ahli dan Alim ulama.
namun, rasanya saya sendiri belum mempunyai kapasitas yang cukup untuk membahas hal tersebut.

Dakwah memang terkesan asing di telinga orang yang tidak mengenalnya. Tapi, sebagai seorang muslim setidaknya PASTI ia pernah mendegar kata tersebut. Adalah sebuah kewajiban yang dibebankan kepada setiap muslim dalam jalan Dakwah. Oleh karenanya, ini sudah menjadi pilihan bagi ikhwah dan muslimin untuk menyebarluaskan serta meneruskan perjalanan panjang ini.

Hanya segelintir,
ya, segelintir orang saja yang mungkin tergerak dirinya untuk masuk dalam barisan ini,
mengapa disebut barisan? karena dari barisan/shaff  inilah kita dapat lihat cermin kesolidan ummat. Bila rapat, maka kuatlah ia meski diterjang badai "7 hari 7 malam". Namun, bila ikatan itu renggang, maka pastilah akan sirna seiring zaman.

Dakwah bukan perjalanan yang main-main, di dalamnya terdapat banyak amanah yang sudah dibuat dan mesti ditunaikan. Sebagai muslim dan terlebih lagi mukminin, amanah adalah sebuah beban yang teramat berat, bahkan Imam Al-Ghazali pernah bertanya kepada murid-muridnya: "Apa yang paling berat di dunia ini?". Ada  dari mereka yang menjawab baja, ada pula yang menjawab besi, dan gajah. Semua jawaban itu benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72)


Begitulah dakwah, sekumpulan dari amanah-amanah yang terhimpun seperti sebuah bahtera. Setiap bahtera itu memiliki nahkoda beserta awak-awak nya, setiap bahtera itu pula silih berganti seiring waktu berjalan.
Pada konteks kekinian pun, banyak metode yang diaplikasikan dalam berdakwah. Contohnya  seperti bentuk publikasi via social media/daring, forum studi dan kajian ilmiah dan sebagainya. Atau lebih jauh lagi, kita melihat Dakwah sebagai sebuah media perjuangan tidak hanya sekadar labelling pada golongan tertentu saja. Namun, memunculkan kesadaran bahwa seluruh muslim juga memiliki andil dalam hal ini. Bahkan, berbuat kebaikan, menyampaikan serta menyebarluaskannya juga sebuah aktualisasi nilai dakwah meski secara sederhana. Satu hal yang pasti ialah, dakwah itu sifatnya inklusif, bukan lagi sebuah hal yang eksklusif. Setiap orang (muslim) bisa mengambil peran yang penting ini.

Sebuah keniscayaan bagi Dakwah itu sendiri tidak akan lekang oleh zaman, terbuktilah bahwa ucapan saya diawal hanya sebuah "bola panas" hasil pemikiran saya yang tidak berlandaskan fakta. Toh, nyatanya jalan Dakwah masih terus hidup dari sejak dulu, kini bahkan dijamin oleh Rasulullah akan tetap berlangsung hingga akhir zaman. Tidak ihwal seberapa banyak golongan kita kelak. Yang pasti, perjalanan ini akan terus hidup selama masih ada orang mukmin yang percaya, meyakini dan mengamalkan, memperjuangkan jalan dakwah, meskipun iman dalam dirinya itu hanya sebesar biji zarrah (*biji sawi/ partikel yang kecil).

Pada akhirnya, Dakwah bukanlah pilihan semata, bukan  juga sekadar mainan pertaruhan mencari kebenaran. Karena benar adanya bahwa, "kebenaran satu tidak bisa menegasikan kebenaran lainnya", dan kita tidak pernah tau apa diri kita sudah benar sebagaimana mestinya, ataukah justru belum.

Maka, selama masih ada yang percaya bahwa jalan ini BENAR, lanjutkanlah!. Karena, Dakwah itu bak sebuah kewajiban, dakwah juga sebuah pilihan yang bisa kita ambil sebagai amalan.
Dan saya meyakini, jalan Dakwah tidak akan pernah berakhir hanya sampai sini.
Masih banyak rintangan yang menanti di fase-fase berikutnya. Level satu ke level lainnya siap menjadi ajang pembuktian bagi setiap orang yang ingin berjuang di jalan-Nya. Dan inilah, salah satu media yang bisa dijadikan tuk mewujudkan islam yang Rahmatan lil'alamiin kepada seluruh ummat. Insha Allah, semoga.
Share:

Sabtu, 10 Desember 2016

Menengahi Konflik Bisnis Transportasi Berbasis Online vs Konvensional: Studi Kasus Go-Jek Jakarta


Kemacetan di Jakarta membuat pangsa pasar ojek berkembang pesat. Meski tarifnya tak menentu, banyak warga Jakarta dan sekitarnya yang mengandalkan ojek sebagai transportasi sehari-hari. Ojek pangkalan adalah sebuah komunitas atau paguyuban perkumpulan tukang ojek. Disana terdapat aturan-aturan baik tertulis maupun tidak. Contohnya seperti nomor antrian penumpang, jadwal narik, setoran dan sebagainya. keributan seringkali terjadi ketika ada tukang ojek dadakan yang merebut penumpang tanpa mau antri atau bergabung dalam ojek pangkalan tersebut.
Tahun 2011, muncul transportasi berbasis online di Indonesia yakni GoJek. Hadir sebagai social entrepreneurship inovatif untuk mendorong perubahan sektor transportasi informal agar dapat beroperasi secara profesional. Manajemen GoJek menerapkan sistem bagi hasil dengan pengemudi ojek yang berada di bawah naungannya. Pembagiannya adalah, 80% penghasilan untuk pengemudi ojek dan 20%-nya untuk GoJek. Saat ini anggotanya sudah mencapai ribuan driver.
GoJek menawarkan 4 (empat) jasa layanan yang bisa dimanfaatkan oleh para pelanggannya: Instant Courier (Barang), Transport (Angkutan), Shopping (Belanja) dan Corporate (Kerjasama dengan perusahaan untuk jasa kurir)

Para pengguna Gojek, harus mengunduh GoJek Mobile App dari handphone mereka, baru mereka bisa memesan layanan Gojek. Para Gojek dengan mudah mendapatkan konsumen karena sudah mengandalkan kemajuan teknologi, tanpa harus nongkrong menunggu tanpa kepastian menunggu nomor urut antrian jatah narik.

GoJek kemudian merebak menjadi salah satu kata atau topik yang bermunculan di berbagai media. Namun bukannya pembahasan mengenai keunggulan dari layanan ojek unik ini. Tetapi, yang lebih mengemuka saat ini adalah adanya konflik antara pengemudi yang bergabung dengan GoJek dengan tukang ojek pangkalan. Keberadaan layanan GoJek di Ibu Kota Jakarta mulai memicu konflik. Pelan tapi pasti, suara penolakan terhadap Gojek mulai mengalir dari para pengemudi ojek pangkalan. Mereka menganggap eksistensi Gojek mengganggu keberadaan mereka dan membuat mereka merugi. Tukang-tukang ojek yang biasa mangkal di Ibu Kota Jakarta, mulai resah dengan banyaknya pengemudi GoJek yang seliweran di jalan-jalan Ibu Kota.  Persaingan antara pengemudi Gojek dengan pengemudi ojek pangkalan memang tidak dapat dihindari. Kapolda Metro Jaya juga melihat, pro kontra yang terjadi di antara tukang ojek pangkalan dan Gojek lebih diakibatkan oleh masalah persaingan. Ojek pangkalan merasa tersaingi oleh eksistensi Gojek.


Pihak General Manager Corporate Relations Gojek, Sam Diah menyatakan bahwa pihaknya hadir untuk membantu pengemudi ojek pangkalan, dan bukan sebaliknya bersaing dengan mereka.  "Yang paling utama kami sampaikan adalah kami bukan hadir untuk berkompetisi dengan pengemudi ojek pangkalan," kata Sam Diah. Bentuk bantuan yang diberikan Gojek kepada para pengojek menurutnya adalah dengan meningkatkan penghasilan mereka dengan bantuan teknologi. Tak hanya itu, para pengojek ini juga mendapat santunan kecelakaan dan jaminan asuransi kesehatan.  Sampai saat ini, kata Sam Diah, Gojek masih membuka kesempatan bagi pengemudi ojek pangkalan untuk bergabung.


Sampai sat ini, masih belum ada solusi atas konflik antara tukang ojek pangkalan dengan Gojek. Yang lebih dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik antara Gojek dengan para ojek pangkalan adalah
aturan yang jelas. Sejauh ini, belum ada aturan yang jelas soal Gojek ataupun Ojek Pangkalan. Sementara aturan legal belum ada, Kapolda bisa mendorong adanya kesepakatan bersama antara Gojek dengan para tukang ojek pangkalan yang tidak merugikan salah satunya.  Misalnya Gojek tidak boleh masuk komplek atau perumahan yang kecil. Biarkan itu menjadi area para ojek pangkalan. Sementara Gojek hanya untuk perjalanan dengan daerah yang lebih jauh. Atau kesepakatan lainnya yang penting tidak ada yang dirugikan.   Tanpa adanya kesepakatan, yang akan dirugikan bukan hanya Gojek dan ojek pangkalan saja, tetapi warga juga. Prinsipnya, dalam menyelesaikan konflik Gojek dengan ojek pangkalan ini, harus tidak ada diskriminasi.

Permasalahan Gojek vs Ojek Pangkalan ini, di masa silam juga pernah terjadi di moda transportasi lain yakni taksi. Di Bandung, saat taksi Blue Bird mulai boleh masuk, supir-supir taksi lokal yang kadang memakai argo kuda kemudian melakukan perlawanan yang mengerikan, taksi Blue Bird dibakar.  Namun kemudian taksi argo kuda di Bandung mulai berbenah diri dari kekerasan yang mereka pernah buat. Mereka mulai disiplin dengan argometernya, disiplin berkendara dan bahkan berseragam.  Dan sekarang banyak orang mengatakan bahwa naik taksi merek apapaun di Bandung lebih aman daripada di Jakarta. Mereka tidak ada yang bergabung dengan Blue Bird, tetapi mereka membenahi sistem mereka menjadi lebih baik.  

Pada akhirnya, segala kegiatan usaha transportasi antara ojek berbasis aplikasi online maupun juga pangkalan (begitupula mobil), harus sama-sama memahami kebutuhan dan juga kondisi masyarakat. Hal ini dikarenakan kebutuhan masyarakat merupakan cerminan akan kebutuhan pelanggan (konsumen) secara riil. Sehingga, bila ada kesepakatan dan juga sikap yang saling memahami antar pihak diharapkan akan menciptakan sebuah iklim usaha yang kondusif dan kompetitif (positif). Tentunya, perlu peran pemerintah untuk meregulasi dan mengawasi setiap kegiatan transportasi ojek ini, terlebih bila menyangkut kebutuhan masyarakat yang cukup penting dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, kedua belah pihak seyogyanya saling bersaing secara sehat dan "main bersih" tanpa menyebabkan konflik yang merugikan semua pihak. Mencoba untuk berorientasi kedepan, menyelaraskan resources  yang dimiliki, demi mensinergikan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tetap menjaga relasi dengan pihak-pihak yang sudah ada.

"Bagaimanapun, semua kembali  pada preferensi masing-masing individu. Yang terpenting dan paling utama adalah kualitas yang baik, adanya jaminan keselamatan, serta keamanan masyarakat nya sebagai pengguna moda transportasi ini."

..padahal naik tetangga haha
===========
Sumber referensi:

1.http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5600fb4f53445/ini-solusi-atasi-bentrokan-ojek-pangkalan-vs-ojek-online.

2.http://www.antaranews.com/berita/367727/pn-jakpus-tolak-gugatan-soal-kemacetan-jakarta

3.http://bisnis.liputan6.com/read/2471422/opini-angkutan-online-antara-kebutuhan-dan-regulasi

===========




Share:

Selasa, 06 Desember 2016

"Kampus dan Pelunturan Idealisme para Penerus"

Assalamu'alaikum
Setelah sekian lama tidak posting, kini saya kembali lagi.

*Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini penulis yang tidak luput dari cacat informasi. Tidak ada niatan untuk menjustifikasi pihak manapun karena sepenuhnya dibuat atas pandangan pribadi penulis. Tak perlu perlu reaksioner.
Kuy simak! :)

=======================
Banyak perguruan tinggi di Indonesia yang hanya mengumbar prestasi akademik yang berhasil ia peroleh, tetapi tidak pernah mengajak mahasiswa untuk peka terhadap lingkungan diluar sana. Padahal, rakyat butuh peran mahasiswa.”


Perkataan tersebut membuat saya terhenyak seraya mencari tahu apa sebenarnya peran dari mahasiswa itu sendiri. Mengingat saya juga masih mahasiswa gembelan semester tiga di bangku perkuliahan saat ini, jelas bahwa saya baru sedikit mengetahui dinamika di kampus, namun masih fakir pengetahuan pula dalam banyak hal.

Kembali ke topik perbincangan,
"Kampus, Idealisme dan Penerus".


Ketiga kata diatas bak sebuah entitas yang tidak bisa dipisahkan.
Di lingkungan kampus, para penerus mengenal idealismenya.
Di kampus pula, idealisme itu tumbuh dan berkembang, namun juga mengakar kuat.
Di dalam kampus, para penerus diajarkan tuk tegar meski terombang-ambing berbagai idealisme lainnya, membenturkan apa yang dipahami dan apa yang tak diamini olehnya.
Penerus itulah, MAHASISWA.

Berbicara mengenai Mahasiswa, pada masa kini nampaknya terlalu sibuk dengan urusan pribadi dan akademisnya masing-masing. Menilik konsep motif berprestasi yang dikemukakan oleh Henry Murray (dalam Irwanto, 2003: 206) pada tahun 1938 dalam bukunya Explorations in Personality. Ia membagi kebutuhan-kebutuhan manusia ke dalam 17 kategori. Diantaranya adalah kebutuhan untuk berprestasi (need-achievement) dan kebutuhan berafiliasi atau berteman (need-affiliation). Senada dengan pernyataan Murray, saya tidak menafikan bahwa pada dasarnya setiap mahasiswa pasti ingin memiliki kedua hal tersebut. Ingin berprestasi, ingin pula membangun sebanyak-banyaknya relasi.

Kemudian, sedikit menggali dokumen demi memperkuat argumen saya ketika awal memostingan pada tanggal 6/12/16. Merujuk pendapat Siswoyo, dalam bukunya "Panduan Mahasiswa", menyatakan bahwa peran mahasiswa tidak sampai pada tahap pencarian prestasi dan relasi semata, ada kecenderungan yang dimiliki mahasiswa yang termasuk rentang usia mature aged ini untuk berpikir kritis dan bertindak dengan cepat dan tepat. Hal ini merupakan sifat yang umumnya melekat pada diri setiap mahasiswa. Kedua hal tersebut (prestasi dan kepekaan sosial) merupakan prinsip yang saling melengkapi, Siswoyo (2007: 121). Mungkin itulah sebab mengapa kemudian lahir mahasiswa - mahasiswa bernafaskan gerakan progresif.

Disini saya melihat peran mahasiswa mengacu pada posisinya tidak sebatas sebagai pembelajar di kampus, namun juga dalam masyarakat. Ya, benar adanya sifat apatis kadangkala masih tergambar dalam wajah mahasiswa saat ini (begitupun saya).

Mahasiswa pada masa kini cenderung kurang peduli dengan apa yang terjadi pada keadaan negara dan bangsanya. Punya daya kritis yang kuat, namun masih belum mampu mengaktualisasikan ide-ide itu secara konret. Bahkan tak jarang pula masih ada yang acuh tak acuh pada kampus tempat mereka bernaung sendiri.

Idealisme mahasiswa pun satu persatu runtuh. Larut dalam gegap gempita masa, ingin capaian secepatnya dan semulus-mulusnya. Ditambah dengan wacana pemangkasan batas maksimum masa kuliah. Membuat suara lantang mahasiswa agaknya semakin diam dan perlahan terbungkam. Syarat yang dianggap muluk dan penuh tekanan, membuat tangannya tidak lagi mengurusi beratnya tongkat panji dan bendera. Atau bahkan sekadar mengepalkan tangan sambil menjunjungnya ke angkasa. Bersuara lantang mendengar kezhaliman penguasa, kini perlahan makin sirna. Pertanyaan berikutnya, Ada apa?

Oh inilah nyatanya, mahasiswa bak sapi perahan bagi para pengusaha-pengusaha, mencari modal dan bahan segar tuk jadi generasi pekerja, "diberi gaji biarlah tak seberapa". Namun, yang semakin beringas ialah sang penguasa. 

Mungkin ini merupakan preferensi masing-masing individu, namun sebagai mahasiswa tidak serta merta selalu berorientasi demikian. Ingat bahwa ada nilai Tridharma yang mengikat kita: Pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta Pengabdian kepada masyarakat.

Sadarkah kawan?, prestasi memang dibutuhkan, capaian akademis tentu ingin yang memuaskan, karena inilah yang didambakan setiap kita dan juga orang-orang di sekitar kita. Tapi kawan, cobalah sejenak lihat sekeliling. Gedung-gedung kian tinggi menjulang, samudera katanya dahulu luas membentang.
Namun, kini tanah bisa mencabik pantai. Menggerus air laut nan tenang menjadi gedung-gedung lainnya di seberang sana. Akankah kita tetap diam kawan?, Sejenak kita renungi.

Semakin banyak pemikiran-pemikiran yang berkembang di kampus. Pemikiran-pemikiran itu punya warna keunikan tersendiri bagi pengagumnya, tak terkecuali saya yang juga memilih salah satu dari warna itu. Bagi saya, adalah hal yang wajar berinteraksi dengan kawan lain yang memiliki pemahaman berbeda, apalagi di kampus universal yang mengusung konsep global dengan tagline world class-university nan humanis. Kemudian banyak lahir pemahaman baru yang turut meramaikan pemikiran para mahasiswa di kampus, tak pelak dosen pun nyatanya punya andil juga dalam bagian ini. Organisasi kemahasiswaan, lembaga, unit kegiatan dan semacamnya menurut saya suatu keistimewaan bila punya idealisme yang dibawakan masing-masing, tidak indah bila bermacam warna namun dicampur menjadi kelabu, jauh lebih indah bila warna itu satu, dengan catatan idealisme nya diterima bagi semua pihak, dan yang lain turut menjadi penyeimbang sebagai pengingatnya. Inilah kiranya pendapat saya yang masih jauh dari sempurna, tapi ini juga bagian dari idealisme yang saya amini.

Dalam bidang non-akademis, kampus menyediakan berbagai wadah yang dapat menampung dan menyalurkan idealisme mahasiswa. Komunitas berdiri dan legal membuat acara, lembaga dan organisasi dibukakan keran selebarnya. Tapi disayangkan, pintu kritik kadang ditutup rapat seiring manis kebijakan yang diberikan.

Ketika sampai di luar kampus, apalagi. Mahasiswa makin malas menghadapi tindak kezhaliman penguasa, terlalu kadung asik dengan kebijakan yang memuaskan diri, tapi menutup matanya sebagai garda terdepan yang menyuarakan hak-hak rakyat. Kini, siapa yang tahu apa yang terjadi di Papua. Tahu Freeport sahaja bangga, bahkan berjuang mati-matian klaim papua milik kita.
Namun kawan, nyatanya masyarakat disana masih merintih dan terkulai, banyak dari mereka yang mendamba kebebasan. Mereka melakukan pergolakan di daerah-daerah, bahkan sampai di Ibukota Jakarta. Tapi apa faktanya kawan? sikap represif aparat dan pembungkaman suara masih sama seperti dahulu kala. Begitu sedih bukan?.

Lalu, siapa pula yang dalam dirinya peduli dengan petani di desa Sukamulya sana, adakah dosen di kelas pernah menceritakannya?, saya rasa hanya segelintir saja perbicangan itu terjadi, atau mirisnya lagi, mereka hanya diselipkan pada studi kasus bab-bab penelitian saja.

Akhirnya, sebagai pelajar terdidik yang punya label agen perubahan. Mahasiswa harus teguh memegang pedomannya, memegang idealismenya.  Nilai keTuhanan menjadi bagian terdepan, nilai Kemanusiaan juga mendorong sebagai perwujudan. Sebagai "Penerus", dalam lingkungan kampus kita perlu banyak belajar lagi, apapun itu.
Pada ujungnya, mahasiswa-lah yang menjadi tameng utama bagi melunturnya idealisme mereka sendiri. Keinginan untuk berubah dan karakter yang kuat sebagai akademisi kampus serta motor pergerakan, kiranya perlu ditanamkan untuk mencegah semakin melunturnya idelisme dari rumah singgah nan singkat ini.

Marilah cari ilmu sebanyak-banyaknya, besyukur bila menjadi pribadi yang prestatif. Pergunakanlah ilmu itu sebaik-baiknya demi menuai kebermanfaatan.
InsyaAllah, berkah kampus-pasca kampus, berkah pula hidup-pasca hidup. Paham? :)

Bila ada kritik dan saran, sampaikanlah!
Sekian, Terimakasih.
#HidupMahasiswa
#Vivat`Academia
#HidupRakyatIndonesia
Wassalamu'alaikum,



Muhammad Yazid Ulwan, Mahasiswa FIA UI
====================================================
Pustaka:
[1]. Panji Dafa Amrtajaya (UGM), 
Ketika Kampus Melunturkan Idealisme Mahasiswa
http://www.qureta.com/post/ketika-kampus-melunturkan-idealisme-mahasiswa. 2/11/16
[2]. Siswoyo, Dwi dkk. 2007. 
Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press http://digilib.uinsby.ac.id/387/4/Bab%202.pdf
[3]. Murray, H. A. (1938). Explorations in personality. New York: Oxford University Press. http://cengagesites.com/academic/assets/sites/Schultz_Ch05.
[Irwanto (2003). Psikologi Umum (Buku Panduan Mahasiswa). Jakarta: PT. Prenhallindo]
[4]. Peranan Mahasiswa Menurut Ahli,  
http://www.pengertianku.net/2014/11/kenali-pengertian-mahasiswa-dan-menurut-para-ahli.html
[5].Gambar : www.twitter.com/Lorisbenmunthe























Share:
ASSALAMU'ALAIKUM.. SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. AMBIL MANFAAT, BUANG YANG KURANG BERKENAN :)

Jam

Hit and Visitors

@Myaziid / 2017. Diberdayakan oleh Blogger.

Kita dan Bangsa!

Kita dan Bangsa!
cintailah negerimu, bagaimanapun kesenanganmu dengan budaya di negeri sana, pastikan darah juang selalu lekat dihatimu

Labels and Tags

Labels

Catatan Pinggir

Menulis dalam sebuah wadah yang baik demi kebermanfaatan, ialah suatu 'kewajiban' bagi saya meski sepatah-dua patah kata saja. --Jejak--